Properti Nasional Diprediksi Bangkit Booming Era Prabowo Didukung Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 14 Januari 2026 | 11:38:23 WIB
Properti Nasional Diprediksi Bangkit Booming Era Prabowo Didukung Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA - Optimisme kembali menguat di sektor properti nasional seiring bergulirnya pemerintahan baru. 

Setelah melalui fase perlambatan cukup panjang, pasar properti mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan yang lebih konsisten. Keyakinan tersebut tidak hanya datang dari pelaku usaha, tetapi juga dari pemerintah yang menilai fondasi ekonomi mulai terbentuk untuk menopang kebangkitan penjualan properti dalam beberapa tahun ke depan. 

Momentum ini dinilai penting karena properti selama ini menjadi salah satu sektor penggerak ekonomi dengan efek berantai yang luas.

Optimisme Satgas Perumahan Menatap Siklus Baru

Satuan Tugas Perumahan melihat pola historis yang berulang dalam pergerakan pasar properti. Anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit menilai sektor ini memiliki karakter growth elasticity yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 

Artinya, ketika ekonomi mulai bergerak naik, properti biasanya menyusul dengan akselerasi yang lebih tinggi. Ia mencontohkan kondisi pascakrisis global 2008, ketika pasar properti mulai bangkit pada 2009 dan mencapai puncak pertumbuhan pada 2013–2014 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Panangian, sepanjang 2025 pasar properti sudah memperlihatkan sinyal perbaikan yang nyata. Penjualan yang sempat tertahan mulai bergerak, meski belum sepenuhnya pulih. Jika pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan berkelanjutan, Satgas Perumahan meyakini lonjakan penjualan atau fase booming berpotensi terjadi pada 2029.

Pertumbuhan Ekonomi Jadi Motor Utama

Faktor kunci yang membuat optimisme tersebut menguat adalah target pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup ambisius. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membidik laju pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Panangian menjelaskan bahwa secara historis, pertumbuhan sektor properti biasanya berada di kisaran 1,5 hingga 1,7 kali pertumbuhan ekonomi.

Ia mencontohkan, jika pertumbuhan ekonomi berada di level 5,2 persen, maka sektor properti berpotensi tumbuh mendekati 8 hingga 10 persen. “Pertumbuhan properti itu sekitar 1,5 - 1,7% dikali pertumbuhan ekonomi. 

Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi 5,2% ya hitung saja. 1,7% dikali 5,2% misalnya, itu kan sudah 8% mendekati 10% [pertumbuhan propertinya],” ujar Panangian. Perhitungan ini menjadi dasar keyakinan bahwa sektor properti memiliki ruang besar untuk kembali berjaya.

Sinyal Positif dari Pengembang Properti

Optimisme serupa juga disampaikan oleh kalangan pengembang. Real Estate Indonesia atau REI memproyeksikan industri properti akan mencatatkan pertumbuhan positif pada 2026. Keyakinan tersebut didasarkan pada kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai lebih akomodatif terhadap sektor perumahan.

REI melihat perpanjangan insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) 100 persen hingga 2027 sebagai salah satu katalis utama. Kebijakan ini dinilai mampu menahan harga tetap kompetitif di tengah tekanan biaya, sekaligus mendorong minat beli masyarakat, khususnya untuk segmen rumah tapak yang menjadi tulang punggung pasar hunian.

Peran Suku Bunga dan Pembiayaan Perumahan

Selain insentif pajak, tren penurunan suku bunga juga menjadi faktor penting yang memperkuat prospek properti. Wakil Ketua REI Rusmin Lawin menilai kebijakan moneter yang lebih longgar akan meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan bunga kredit pemilikan rumah yang lebih terjangkau, cicilan menjadi lebih ringan dan membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk masuk ke pasar properti.

Rusmin menambahkan bahwa penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) perumahan juga berpotensi memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 

Skema pembiayaan ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan hunian dan kemampuan finansial masyarakat, sehingga pemulihan sektor properti tidak hanya dinikmati segmen menengah atas, tetapi juga merata.

Properti Perumahan Jadi Fokus Kebangkitan

Dalam fase awal kebangkitan ini, sektor perumahan diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan properti. Kebutuhan hunian yang besar, terutama di kawasan perkotaan dan daerah penyangga, menjadi penopang permintaan jangka panjang. Pengembang pun mulai menyesuaikan strategi dengan menghadirkan produk yang lebih terjangkau, efisien, dan sesuai dengan kemampuan pasar.

REI menilai kombinasi insentif fiskal, penurunan suku bunga, serta dukungan pembiayaan akan menciptakan iklim yang kondusif bagi kebangkitan properti. Fokus pada perumahan dinilai tepat karena sektor ini memiliki efek ganda yang signifikan terhadap industri lain, mulai dari bahan bangunan hingga tenaga kerja.

Harapan Menuju Fase Booming Properti

Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, Satgas Perumahan dan pelaku industri sepakat bahwa era pemerintahan Prabowo membuka peluang baru bagi sektor properti. Meski tantangan tetap ada, terutama terkait daya beli dan stabilitas ekonomi global, fondasi kebijakan yang disiapkan pemerintah dinilai cukup kuat.

Jika pertumbuhan ekonomi dapat dijaga sesuai target, sektor properti berpeluang kembali memasuki fase booming dalam beberapa tahun ke depan. Bagi industri, momentum ini menjadi kesempatan untuk berbenah dan berinovasi, sementara bagi masyarakat, kebangkitan properti diharapkan membuka akses hunian yang lebih luas dan terjangkau di masa mendatang.

Terkini

Malaysia Targetkan 4,6 Juta Turis Indonesia Tahun 2026

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:17 WIB

Maskapai Low-Cost Paling Aman Dunia 2026 Terungkap

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:14 WIB

11 Cara Efektif Menjaga Kesehatan Kuku Tetap Sehat

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:12 WIB

Tren Baju Lebaran 2026 Gamis Berompi Kini Populer

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:11 WIB